SAMARINDA — Ramainya perbincangan di media sosial mengenai siswa yang diliburkan akibat kabut asap namun program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan akhirnya mendapat kejelasan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Kebijakan pengalihan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka menjadi daring (online) ini diambil menyusul memburuknya kualitas udara di wilayah Kaltim akibat dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Berdasarkan data pemantauan dari Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda pada Kamis (17/9/2026) pukul 16.00 Wita, kualitas udara di wilayah tersebut telah masuk dalam kategori Sangat Tidak Sehat.
Merespons kondisi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim mengeluarkan kebijakan agar kepala satuan pendidikan memperkenankan pelaksanaan pembelajaran secara daring. Langkah ini diambil sebagai upaya perlindungan dini terhadap kesehatan murid, pendidik, dan tenaga kependidikan dari paparan asap.
Dalam edaran tersebut, Disdikbud Kaltim juga menekankan bahwa kebijakan daring ini bersifat situasional. Pihak sekolah diminta terus berkoordinasi dengan orang tua untuk mengawasi siswa selama belajar di rumah. Pembelajaran tatap muka akan kembali digelar setelah instansi berwenang menyatakan kondisi kualitas udara sudah kembali aman.
Terkait pelaksanaan program MBG di tengah masa belajar daring yang banyak dipertanyakan warganet, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Ririn Sari Dewi, memberikan klarifikasi. Ia memastikan bahwa program tersebut tidak dihentikan, melainkan disesuaikan.
“MBG adalah program pemerintah pusat. Secara keseluruhan MBG di Kaltim tetap berjalan seperti biasa, pemerintah daerah tidak terkait dengan program tersebut ,” tegas Ririn.
Meski demikian, Ririn menggarisbawahi bahwa keselamatan siswa tetap menjadi prioritas utama. Pelaksanaan teknis pembagian MBG akan bersifat fleksibel mengikuti tingkat keparahan kabut asap di masing-masing wilayah. ***













