KISAH CINTA RADEN SANCAKA

CERITA RAKYAT – Karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk jika tetap menolak permintaan Raden Sancaka, Lastri akhirnya mengiyakan dan membiarkan makhluk dari bangsa lelembut itu ikut pulang ke rumahnya. Lastri membersihkan kamar kosong bekas kamar kedua orang tuanya yang kini telah tiada dan mempersilakan Raden Sancaka untuk istirahat di sana.

“Maaf kalau hanya kamar ini yang bisa saya berikan untuk Raden. Saya bukan orang berpunya. Rumah ini juga peninggalan almarhum orang tua saya. Apa … Raden yakin, tidak keberatan untuk tinggal di sini?”

Raden Sancaka melihat kondisi kamar memprihatinkan berukuran kecil dan lembab itu sekilas, sebelum menatap sang pemilik untuk kemudian menggeleng. “Tempat ini sudah lebih dari cukup untukku. Terima kasih banyak sebelumnya.”

Bacaan Lainnya
banner 728x90

Lastri mengangguk sambil tersenyum lega. Namun, karena beberapa kali matanya jadi tak sengaja melihat pada tubuh atas sang raden yang terekspose tanpa pakaian, hal itu sedikit membuat Lastri merasa tak nyaman.

Lastri pun menelan ludah berusaha menepiskan semrawut pikirannya kemudian menunjuk ke arah lemari kayu tua di sisi ranjang kamar itu. “Di lemari itu juga masih tersimpan rapi baju-baju peninggalan orang tua saya. Kalau Raden membutuhkan pakaian ganti, Raden bisa menggunakan pakaian milik almarhum bapak saya.”

Tanpa menunggu tanggapan, Lastri lantas mengangguk permisi dan berlalu ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Janda lanjar itu memulai kegiatannya dengan menyalakan api dalam tungku dan menjerang air untuk membuatkan minum bagi tamunya.

Seolah lupa kalau Raden Sancaka bukanlah manusia, Lastri keceplosan mempertanyakan kepada pria lelembut itu, apakah dirinya menginginkan teh atau kopi sebelum memutuskan menuang air yang sudah mendidih ke dalam morong.

“Kopi pahit tanpa gula saja,” jawab Raden Sancaka–yang sebenarnya tak benar-benar ingin minum itu–dari dalam kamarnya.

Meski Lastri tidak pernah mengutarakan rasa risihnya ketika melihatnya dengan gaya busana kerajaannya yang masih sangat tradisional dan serba terbuka, tetapi Raden Sancaka tahu pasti isi hati dan pikiran Lastri, sehingga kini ia pun menatap bingung ke arah lemari yang katanya menyimpan pakaian ganti itu.

Raden Sancaka memandang dilema ke arah tumpukan pakaian tua di dalam susunan lemari.

Sebagai raja di negerinya, dia tak suka mengenakan pakaian yang bukan miliknya sendiri. Apalagi sekarang dia harus mengenakan pakaian manusia yang sudah mati. Namun di sisi lain, dia juga tak ingin membuat pemilik rumah yang ia tumpangi jadi merasa tak nyaman dengan dirinya.

Akhirnya, dia memutuskan dengan berat hati untuk menanggalkan pakaian beserta atribut kerajaannya dan menggantinya dengan salah satu pakaian milik almarhum ayah Lastri yang untungnya sangat pas di tubuhnya yang jangkung dan juga ramping.

Malam itu, Raden Sancaka keluar kamar tak ubahnya manusia biasa yang memiliki ragawi sempurna hingga mampu membuat Lastri sempat ternganga. Sebab di masa itu di desanya, belum pernah sekali pun Lastri bertemu pria setinggi dan segagah sang raden.

“Si-silakan duduk di sini, Raden. Kita makan bersama.” Lastri sampai tergagap-gagap saking gugupnya.

Di meja makan yang menyatu dengan dapur itu, hanya ada beberapa potong singkong rebus yang terhidang ditemani kopi pahit untuk Raden Sancaka dan segelas teh hangat untuk Lastri minum sendiri.

“Saya sedang melakukan puasa ngrowot, Den. Jadi, saya tidak memiliki stok beras di rumah dan tidak memasak beras.”

Raden Sancaka duduk di kursi kayu yang sudah disiapkan dan mendekatkan hidungnya ke depan morong berisi kopi hitam pahitnya dan menghidu kepulan uap panas yang menguar dari sana, kemudian kembali menatap kepada Lastri. “Lain kali, tidak perlu menyiapkan makanan apa pun untukku. Aku tidak pernah makan makanan manusia. Hari ini karena kamu sudah menyiapkannya, aku hanya akan menyesap aroma kopi dan singkong ini sebagai rasa terima kasihku.”

Lastri terdiam memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan tamunya. Dalam posisi saling berhadapan inilah, Lastri baru benar-benar memahami bagaimana rupa sosok lelembut yang sudah dia selamatkan itu.

Raden Sancaka memiliki potongan rambut ikal sebahu berwarna hitam legam. Dia juga memiliki bentuk rahang yang tegas dan kumis tipis di atas bibirnya yang juga tipis. Serta hidung yang cukup tinggi bahkan saat dilihat dari depan, amat serasi dengan kulit putihnya yang bersinar menawan.

Di mata Lastri, sosok Raden Sancaka memanglah pantas menjadi raja. Pria ini tampan sekaligus manis. Tatapannya penuh wibawa namun hangat di saat bersamaan. Tidak semenakutkan tadi saat mereka baru saja saling bertemu. Dan dengan begitu mudahnya, sosok kharismatik itu telah berhasil memikat hati Lastri yang selama ini bertekad untuk tidak kembali jatuh cinta usai ditinggalkan sang suami ke alam baka.

Ah, apakah karena dia bukan manusia, karena itu dia jadi sangat memikat?

Sadar dirinya kini tengah diperhatikan, Raden Sancaka mengangkat pandangan dan balas menatap paras Lastri yang terlihat manis alami. Tanpa polesan bedak maupun lipstik. Kemudian sang Raden tersenyum, yang membuat Lastri tersadar dari kekagumannya dan menunduk lantaran malu telah kepergok menatap secara terang-terangan.

“Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada Raden sehingga sampai ada paku sebesar itu yang menancap di kepala Raden?” Tak ingin tenggelam dalam kecanggungan, Lastri kemudian bertanya untuk mencairkan suasana.

“Seseorang yang sakti menancapkannya ke kepalaku untuk melindungi manusia yang keliru.” Raden Sancaka menjawabnya dengan pandangan menerawang ke kejauhan.

Mengingat apa yang sudah terjadi kemarin malam membuat emosinya mendadak saja kembali mengganjal di dada hingga tak sadar dirinya mengepalkan tangan di bawah meja.

“Apa peristiwa itu ada kaitannya dengan petir besar yang kabarnya menyambar di hutan semalam?”

“Ya.” Raden Sancaka membenarkan. “Petir itu adalah kekuatan orang sakti yang digunakannya untuk melumpuhkanku. Dan aku akan mencari mereka setelah kesaktianku pulih kembali.”

Lastri mendongak saat menangkap hawa amarah itu. Ia tak ingin ikut campur, tetapi juga tak bisa berhenti merasa penasaran ingin mendengarkan semua ceritanya. “Barusan, Raden menyebutkan mereka?”

Raden Sancaka mengangguk sekali. “Ada seorang manusia yang datang menemui patih di kerajaanku. Manusia itu meminta bantuan padanya agar diberikan kekayaan melalui penglaris pada usaha yang dia jalankan. Dan menyanggupi semua persyaratan dengan segala risikonya. Termasuk janji jika manusia itu harus menjadi budak di kerajaan kami setelah kematiannya bersama para manusia lainnya yang telah dia tumbalkan.

“Tapi, manusia itu malah berniat mengingkari janji saat telah kehabisan calon tumbal dan pergi menemui orang sakti untuk membantunya melepaskan janjinya. Orang sakti itu menangkap patihku saat hendak menagih janji, jadi aku datang berniat menolongnya. Sayangnya, inilah yang malah terjadi. Manusia sakti itu menyerangku dengan cara yang licik. Dia menancapkan mustika paku bumi ke kepalaku dan mengubahku menjadi ular.”

Lastri menelan ludah usai mengetahui itu semua. Dia memang sering mendengar kabar tentang orang-orang yang melakukan praktik pesugihan di luar sana. Tapi tak pernah memikirkan semuanya dengan serius apalagi membayangkan dirinya akan terlibat langsung dengan lelembut pemberi pesugihan itu sendiri layaknya sekarang. Terang saja, ini sangat baru dan membingungkan baginya.

“Lalu, berapa lama kira-kira kesaktian Raden akan kembali pulih?” Disusul rasa khawatir jika dirinya akan benar-benar goyah bila semakin lama tinggal bersama lelembut memikat ini, Lastri pun gegas bertanya untuk memastikan.

“Soal itu, aku tidak bisa memastikannya. Tapi sampai saat kesaktianku pulih, aku janji tidak akan banyak menyusahkanmu. Aku hanya membutuhkan tempat untuk semedi dan kamar itu sudah lebih dari cukup untukku.” @

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *